James E. Simorangkir (JES)
James E. Simorangkir (JES)

Ini bukan tulisan untuk mencari muka atau agar terus disayang atasan seperti tuduhan-tuduhan keji dari orang-orang yang iri dengan kedekatan kami dan iri terhadap loyalitas saya selama ini yang tak tergoyahkan, tak perlu takut disingkirkan karena saya atau karena tulisan ini, karena tanpa tulisan inipun, ia telah paham apa maksud dan tujuan saya bersamanya.

Ini sebuah tulisan yang harus disebarluaskan, ini soal bagaimana mengungkapkan dan mendokumentasikan sebuah kekaguman terhadap keteguhan dan mengapresiasi komitmen serta visi-misi yang tegas untuk menjadi ORANG INDONESIA, ini adalah hal yang nyata ada pada sesosok orang Indonesia sederhana yang konsisten meski didera banyak ujian dan terus disepicingkan mata justru oleh orang yang katanya mengenalnya dengan baik.

Ini adalah sosok yang benar-benar paham bagaimana mensyukuri takdir hidupnya sebagai manusia ber-ke-Tuhan-an, yang de vacto ditakdirkan Tuhan sebagai seorang INDONESIA.

Namanya James E. Simorangkir, sudah tiga bulan ini dia menjadi atasan saya, kami biasa menyingkat namanya dengan JES atau terkadang kami menyebutnya “Babe” diantara sesama staf, karena kami merasakan aura kebapakan dalam setiap perannya sebagai atasan yang TIDAK SEMENA-MENA (MANUSIAWI), bahkan ia lebih senang memposisikan dirinya sebagai kawan ketimbang membangun keangkuhan diri sebagai boss “Maha Kuasa”.

Perjumpaan Yang Biasa Saja

Saya dipertemukan oleh Tuhan dengannya secara tidak terduga, seperti dijodohkan saja saya dengannya, kala itu kawan lama saya yang dahulu juga bekerja perusahaan kami lebih awal dari saya dan tahu bahwa saya adalah seorang Web Developer, menghubungi saya agar saya membuat tawaran jasa pembuatan Website untuk perusahaan kami ini, karena saat itu perusahaan kami tengah berencana membuat website untuk media kami.

Saya ajukan penawaran kepadanya secara resmi, Iman Supriyadi dan Ratih Karnelia sebagai Manager saya kala itu, kemudian memulai serangkaian  proses penawaran hingga negosiasi.

Awalnya negosiasi berjalan alot karena ada yang belum sinkron dalam hal penerapan teknologi dan tampilan, Dua minggu bertele-tele, akhirnya saya minta waktu untuk turun tangan dan melakukan presentasi sendiri dihadapan JES bersama para stafnya.

Bersyukur tak sampai satu jam kami melakukan BrainStorming, kami mencapai kesepakatan yang bulat dan resmi bekerjasama.

Semula, saya memandang sosok JES sebagai sosok “Orang Kaya biasa” yang hanya sekadar ikut-ikutan mendirikan media massa untuk “kepentingan” pribadi maupun membangun pencitraan diri, bukan media yang benar-benar untuk publik sebagaimana sejatinya sebuah media, HANYA CARI UNTUNG BESAR itu pandangan saya selama ini kepada media massa yang ada.

Malam itu pembicaraan bisnis web kami usai dengan kesepakatan, lalu kami lanjutkan bincang-bincang santai agar lebih akrab diruang kerjanya, entah syetan atau malaikat yang ia lihat dalam diri saya, Ratih dan Iman malam itu, tiba-tiba saja terluncur tawaran darinya agar kami bertiga bersedia bergabung sebagai staf kreatif khusus, untuk membantunya mengelola serta memajukan media itu.

Kala itu ia terus berusaha melamar (meyakinkan) kami bertiga yang memang merupakan para pegiat demokrasi dan pelayan kemanusiaan ini, agar mau bergabung dengannya, bahkan meninggalkan profesi kami saat itu agar full In Charge disana, bahkan tawaran penghasilan lebih pun ia tawarkan dengan raut serius, meski kami bertiga sejatinya bukan para pegiat yang haus harta tanpa prinisip.

Saat itu saya masih mengabdi sebagai Senior Information Technologies Officer di sebuah korporasi konsultan, sedangkan Iman bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi dan Ratih dikesehariannya disibukan dengan mengelola situs kami www.suaraperempuan.or.id

Seminggu kami bekerjasama, dan ternyata tawarannya itu begitu serius, saya mulai serius pula menanggapinya, bagi saya setiap tawaran itu sebuah bentuk apresiasi dan pengakuan tersendiri kepada saya, karena itu saya tidak boleh menganggapnya remeh, namun tetap merawat kewarasan, karena berarti saya akan masuk kesebuah lembaga media massa dan sejak dulu saya memang selalu sangat berhati-hati dalam memilih pekerjaan, apalagi yang ada kaitannya dengan ideologi politik seperti di media seperti ini.

Bagi kami bertiga yang sudah sejak lama mengelola media rakyat ww.suaraperempuan.or.id dan www.mediakarrumput.org serta beberapa media rakyat lainnya yang bukan sembarangn itu, ditawari mengelola media profesional itu bukalah sebuah kebanggaan, melainkan sebuah dilema, karena mungkin saja kami kemudian akan berotak kapitalis dan tak sadar penderitaan sesama ketika sudah berada dirimba penuh persaingan bisnis itu.

Mulai Jatuh Hati

Waktu berlalu, saya masih menunda keputusan untuk menerima tawaran itu, untuk memikirkannya lebih matang, dan saya kebetulan pula seorang yang cukup sulit untuk memutuskan mengakhiri pengabdian saya di tempat bekerja yang lama ke tempat bekerja yang baru, sekalipun ditempat yang baru mungkin menawarkan penghasilan yang lebih baik dari ditempat yang lama.

Ratih, sahabat lama saya yang sudah saya anggap sebagai saudara kandung saya, akhirnya memutuskan menerima tawaran JES terlebih dahulu, sementara Iman, suaminya yang juga sahabat sahabat lama saya yang sudah saya anggap sebagai saudara kandung saya itu, memutuskan untuk berkontribusi dari luar, membantu apapun yang diminta oleh JES, sebagai apresiasi atas komitmen JES yang konsisten dan begitu tinggi terhadap Demokrasi, Penegakan Hukum, Hak Asasi Manusia serta kemanusiaan, yang pula sejalan dengan komitmen kami bertiga selama ini.

Ratih kemudian ditunjuk sebagai sekretaris redaksi, sementara saya yang sudah mualai jatuh hati dengan prinsip JES, terus berupaya membantu meningkatkan kwalitas teknologi informasi media itu, saya berjuang keras menyediakan waktu khusus untuk JES, disela-sela profesi yang masih saya tekuni di perusahaan konsultan itu, suka rela saya menyediakan hari libur dan waktu istirahat malam saya untuk memenuhi setiap undangan JES hadir dikantornya.

Sebulan awal bergaul dengannya, Jujur saya mulai kagum dan jatuh hati dengan ucapan-ucapannya yang seolah punya “daya magis” untuk menyadarkan orang yang ia jumpai, ia seorang SOEKARNIS yang benar-benar mampu menjadikan dirinya seorang Seorang Soekarno masa kini.

Akhirnya Saya Menyerah

Tepat 1 Agustus 2012, saya dengan legowo menerima tawarannya untuk bergabung, untuk mengabdikan diri saya, mencurahkan segala daya dan upaya saya untuk bersama mewujudkan segala cita-citanya yang bukanlah cita-cita pribadinya, melainkan cita-cita membangun bangsa, cita-cita para pendiri bangsa layaknya Soekarno yang bukan mudah dan merupakan perjuangan panjang yang tak sebentar.

Semula saya pikir JES seorang pemilik media kapitalis juga, namun berhitung banyak dari apa yang ia keluarkan dari kocek pribadinya dan berapa keuntungan yang ia peroleh dari media kami, saya lantas tersadar bahwa apa yang ia keluarkan itu bukan sebuah investasi, melainkan sebuah pengorbanan untuk sebuah gerakan penyadaran berbangsa dan bernegara yang sama sekali tak akan menguntungkan baginya.

Saya pikir saya akan dipaksa untuk terus meningkatkan untung bagi media saya, namun ternyata salah, banyak hal yang sebenarnya bisa ia “Uangkan”, namun ia bagikan GRATIS hanya agar semua kalangan bisa menikmati ilmu dan pengalaman dari media kami, dan belajar mengenal keluhuran negerinya.

Bukan karena penghasilan yang tinggi, yang membuat saya berjanji prasetya mengabdikan diri saya untuknya, bukan pula jabatan atau pangkat yang membuat saya tertarik bekerja untuknya, melainkan sebuah niat yang tulus MENGAWAL SEORANG “NEKAD” YANG SADAR KONDISI BANGSANYA ini agar mampu terus menjadi motor perubahan yang memang bukan sekadar dibicarakan, melainkan terus diperjuangkan hingga titik darah penghabisan.

Dia kerap mengkritik banyak hal yang bukan sekadar kritik, melainkan mengingatkan kembali kita soal jati diri saya sebagai Orang Indonesia.

Semula saya pikir akan banyak batasan dalam menulis dan meliput berita, namun ternyata tidak, semua berita yang saya kontribusikan justru menarik baginya.

Saya beritakan kasus-kasus seputar homoseksualitas yang dulu mengganjal saya sehingga diberhentikan dimedia lama saya, ternyata ia tidak resisten. Saya beritakan soal penggusuran yang kerap dianggap berita remeh untuk media-media besar, ternyata ia malah inginkan saya lebih mendalaminya, bahkan saya beritakan soal Peristiwa Kejahatan HAM 1965, ah.. ternyata ia pula tidak alergi seperti media lain.

Dulu saya menganggap wajar orang bangga pakai mobil dan motor buatan bangsa lain, namun dari ucapannya, saya kemudian sadar, benar juga kenapa kita begitu bangga berebut barang import, bukanya malah mendorong anak bangsa untuk menciptakan sendiri.

Ia kerap mengkritik bagaimana sekarang orang lebih gemar beragama ketimbang ber-iman, banyak ibadah namun lupa saudaranya yang miskin, naik haji setiap tahun padahal yang wajib hanya sekali seumur hidup dan menghamburkan uang berwisata ketanah suci tak peduli dengan nasib orang lapar yang berjuta dinegerinya.

Meski sudah berusia cukup, namun baru kali ini saya jumpai ada orang yang punya perhatian khusus kepada ORANG MUDA, cita-citanya membuat orang muda Indonesia mampu mendominasi perubahan dan mendobrak segala sekat yang diciptakan apapun, itu sejalan dengan komitmen saya terhadap kata “REGENERASI” yang kini sudah mulai langka diberagam lini terdepan bangsa ini, bahkan langka pula diberagam organisasi yang masih menempatkan hegemoni kaum senior ditempat paling tinggi.

Perhatiannya yang begitu besar terhadap soal-soal kultur, budaya serta sejarah, membuat saya malu melihat wujud saya kini begitu bangsa asing, bukan berwujud bangsa Indonesia sesuai takdir saya lahir, dibesarkan, hidup dan mungkin kelak dikebumikan disini.

Darinya, saya malu lebih menganggap Starbuck dan Seven Eleven sebagai tempat yang indah untuk tempat minum kopi disana, ketimbang minum kopi dikedai kopi pinggir jalan yang berbaur dengan para supir ojeg dan akar rumput.

Darinya, saya malu ketika lebih banyak tahu ideologi Socrates atau bahkan Kalmark, padahal Soekarno, Hatta, Tan Malaka lebih filosofis dan punya ideologi yang mampu menggentarkan bangsa asing.

Entah mengapa, seiring berjalannya waktu, saya dan dia menjadi begitu dekat, bahkan tak habis-habisnya setiap hari mendiskusikan nasib bangsa ini dan tak gentar-gentarnya terus membuat rencana serta beragam hal untuk dipersembahkan bagi bangsa ini, sekalipun langkah kami begitu tertatih, bahkan terus dirong-rong oleh sikap-sikap yang tak paham sejatinya maksud perjuangan ini namun ingin ikut ambil bagian “menyetir” perjuangan ini.

Namanya atasan bisa dekat dengan bawahan, tentu banyak yang buruk sangka, bahkan iri dengki terus menghasud agar saya dengan JES tak dekat lagi. Mereka tidak sadar bahwa kedekatan ini adalah sebuah takdir untuk membuat sebuah “Bola Salju” perubahan bagi bangsa ini.

Ahh.. Kami hanya bisa menertawakan upaya-upaya itu, kami memakluminya karena kami paham bahwa mereka bukan jahat, hanya belum paham makna hakiki perjuangan ini.

Orang kerap menyebut JES adalah “orang gila”, “orang nekad”, bahkan “pemimpi” dan lebih gilanya lagi hanya karena ketersendatan finansial, mereka kemudian menarik dukungannya kepada JES dan banyak berburuk sangka bahkan meragukan dan menyepelekan seorang JES..

Baru kali ini saya merasa bangga menjadi jurnalis yang TANPA TEDENG ALING-ALING MENGUAK SEGALA FAKTA dan TANPA BATAS MENGANGKAT SEGALA SUARA RAKYAT, padahal banyak orang bilang media kami “Media Kere” karena keadaan finansial kerap tersendat.

NAMUN PERLU DICATAT! Bahwa keterbatasan finansial ini adalah bentuk kewarasan, karena kami ANTI KAPITALIS KOTOR, kami tidak menghamba kepada kekuatan-kekuatan politik manapun dan kami tak silau dengan media lain yang lebih “Kaya” dari kami, karena kami media yang jujur untuk berjuang tanpa alat yang justru kotor!

Saya bersama Iman-Ratih telah bulat berkomitmen tidak akan ikut-ikutan meninggalkannya, meski tak seorangpun lagi mau bersama JES atau bahkan dalam kondisi sesulit apapun bersamanya, kami akan terus mengawal “Orang Gila” ini agar terus JADI GILA, karena gilanya itu justru mewaraskan orang, gilanya itu justru karena orang yang merasa terlalu waras itu tak paham bahwa sejatinya kewarasan mereka adalah sebuah ketidak sadaran akan SUPER EGO dan ketidak pedulian terhadap nasib bangsa ini yang terus berusaha diruntuhkan.

Sebagai penutup, sekali lagi ini bukan tulisan untuk cari muka, namun saya yakin mereka yang tak paham itu akan terus berpikir terbalik, silakan itu hak mereka, namun sebaiknya mereka diam sajalah bila tak suka dan uruslah hidup mereka sendiri dengan keyakinan yang mereka yakini paling benar itu, biar waktu yang membuktikan mana keyakinan kita yang HAKIKI PALING BENAR.

Mari bersama jadi gila bersama JES atau monggo menyingkirlah dengan kewarasan versi anda sendiri.

Bukan Hal Yang Bijak dan Layak disebut Manusia, Ketika Kepentingan Dan Ego Pribadi Lebih Diutamakan Untuk kepetingan Bangsa Dan Negara Yang Bagi Kemaslahatan Banyak Umat Manusia…

Salam;

Donny Suryono PSH

Tanggapan Anda: