Sisdjiatmi Soedjiarto WidhaningratMemperingati 1000 hari wafatmu, aku persembahkan tulisan yang merangkum biografi singkatmu ini Mama, bukan untuk membuatmu tenar, hanya untuk mengenangmu, membagi segala pengorbananmu sebagai PEREMPUAN TAHAN UJI, mengapresiasi keluhuran budi pekertimu dan mengingatkan kepada orang-orang yang pernah meremehkan hidupmu, bahwa kau BUKAN PEREMPUAN BIASA!

Ini tulisan remeh temeh, dari seorang anak remeh temeh untuk ibundanya yang telah berpulang, untuk seorang perempuan yang tak layak disebut remeh temeh.

Nama kelahirannya Ra.y.Sisdjiatmi Soedjiarto Widhaningrat, orang yang menyayanginya senang menyapanya dengan sapaan “Mimiek”.

Seorang putri ningrat dari pasangan bahagia ALM.BRIGJEND (POL) Anumerta. R.M. Soedjiarto Mangkusuwidho, seorang polisi yang jujur dan loyal terhadap Soekarno (Meski Masih Saudara Dari Tien Soeharto) dengan RA,Y.Sispinah Widhaningrat Soedjiarto seorang ibu dan eyang yang begitu luarbiasa merawat keluarganya.

Perempuan ini sepanjang hidupnya tak pernah membanggakan ke-Ningratan-nya, bahkan lebih gemar berkumpul dengan mereka yang kerap diturunkan derajadnya oleh para ningrat sebagai rakyat jelata.

Perempuan cantik, yang bukan bualan sejak kecil menjadi “Incaran” banyak lelaki dari yang berbibit, bebet, bobot luarbiasa, hingga yang sekadar “Rakyat Jelata” kata para ningrat, Dari Bambang Soeharto sampau Roy Marten, dimasa mudanya yang penuh hura-hura namun segera ditinggalkannya dengan pernikahan pertama sekaligus terakhirnnya.

Perempuan ini adalah ibuku, aku yang bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, aku yang begitu ia cintai sebagai putra semata wayang yang begitu ia gadang-gadang bukan untuk menjadi artis terkenal atau bahkan pejabat, melainkan digadang-gadang untuk menjadi sesosok manusia biasa yang mampu sepanjang hidup jadi pengabdi, jadi pelayan bagi setiap jiwa nan teraniaya, jadi corong bagi segala ketakutan dan jadi “penerang” bagi setiap redup, sesuai dengan nama “Suryono” yang bermakna penerang, yang sengaja ia sematkan pada penamaanku.

Perempuan ini adalah seorang lulusan Akademi Sekretaris Management Indonesia (ASMI), ia aktif sebagai aktivis kemanusiaan kampus dan bergabung dengan Ikatan Mahasiswa Djakarta (IMADA).

Lahir dari perpaduan keluarga Islam dan Katholik yang begitu taat, namun sebegitu plural serta menjunjung tinggi serta merawat KEBERAGAMAN sebagai unjung tombak kerukunan yang tak berseragam.

Perempuan ini begitu mencintai ALM.RM.Hartadi Sutjahyo, suaminya, ia bahkan rela menentang tentangan dari ibundanya hanya untuk meyakini cintanya kepada Hartadi.

25 Juni 1979, sepasang adam dan hawa pengukir jiwa ragaku ini dipersatukan oleh Tuhan. Tiga warsa berselang aku dilahirkan, aku dilahirkan dengan pertarungan Sabil perempuan ini.

Kisahnya dahulu, aku lahir tepat disaat malam takbiran tiba, kala itu berhari telah dinanti namun entah mengapa aku masih betah dikandung hayat ibuku, hari berselang, tepat pukul.1:00 WIB 10 Juli 1982, takdir hidupkupun dimulai.

Masih kisahnya, bobotku katanya waktu itu 3,5 KG, bahagia namun bercampur cemas juga katanya waktu itu keluarga kami, karena paska aku keluar, perdarahan tak kunjung usai dari Rahim ibuku, alhasil, Profesor.Rahadi Santo yang merawatnya, memaksakan untuk mengangkat Rahim ibuku dan jadilah aku putra semata wayang.

Sejak kelahiranku, dikisahkan bahwa seluruh hidup dan apapun yang mereka miliki dicurahkan hanya untukku, bahkan ibuku lantas berhenti bekerja sekaligus melupakan impiannya menjadi perempuan karir, meski posisinya sebagai di Hotel Indonesia (HI) kala itu terus menanjak.

24 Maret 1992, “petaka” datang untuk keluarga kami, ayahku ketahuan telah menikah lagi dengan seorang perempuan lain. Janda beranak dua yang sudah dewasa, lebih tua dari ayahku, entah apa yang menjadi alasan ayahku, yang pasti sanak saudara dan sahabat semuanya seakan tidak percaya bahwa ayahku telah berani memutuskan untuk menikah lagi dan meninggalkan ibuku.

Sejak malam penuh kejujuran itu berlalu, ibuku kemudian berstatus “Janda Tanpa status’ hingga hembusan terakhir nafas kehidupannya. Tanpa sehelai kertas keputusan cerai, bahkan tanpa harta apapun yang ditinggalkan ayahku.

Aku ingat benar bahwa saat itu ibuku justru seolah jadi pihak paling bersalah atas kepergian ayahku, dimata keluarga besarnya, ibuku seolah menjadi tertuduh utama sebagai istri yang tak mampu menjaga suaminya, taka da pembelaan, bahkan banyak cibiran dan caci maki diterimanya.

Kehidupan ekonomi kamipun menjadi terpuruk, sejak malam “Talak 3” itu, ayahku menghilang entah kemana bersama “Kepuasan” barunya. Taka da nafkah lahir ataupun batin, bahkan taka da kabar berita.

Aku ingat benar, aku dan ibuku sat itu jadi sepasang ibu dan anak yang seolah sebatang kara dirimba Jakarta yang begitu kejam.

Kami mengontrak disebuah rumah petak seharga Rp.150.000; digang sempit, semua perabot kami jual untuk menyambung hidup, bahkan sebatang centong nasipun kami tak punya waktu itu. Hanya tersisa dua pasang sendok dan garpu, sepasang piring makan plastic dan sepasang gelas yang juga plastic.

Namun dasar bebalnya ibuku, iya pantang menyerah untuk terus bertahan hidup, ia tak pernah menitikan setitikpun air mata kenelangsaannya, kecuali hanya ketika berada diatas sajadah dan butiran tasbihnya yang sangat using dan masih kusimpan hingga detik ini sebagai pusaku.

Baginya, hanya Tuhan, hanya Allah SWT tempatnya untuk mengaduh, baginya hanya INILAH JIHAD YANG MAMPU IA PERSEMBAHKAN bangi Rabb-nya. Baginya bertahan hiudp meski tersia-sia masih lebih mulia ketimbang menyegerakan kematiannya dengan bunuh diri.

Masih teringat benar dipelupuk mataku, kala itu aku masih dikisaran usia 10 tahun, aku dibawanya kesana kemari untuk mencari nafkah, mulai dari melamar pekerjaan apapun yang teriklankan di harian Poskota, berkeliling kesanak saudara menjajakan daster, kosmetik, pakaian dalam, jamu hingga menjadi perantara untuk mereka yang sedang membutuhkan suatu barang.

Semua ia lakukan dengan penuh keikhlasan, aku tak pernah bisa melupakan bagaimana ia selalu berusaha tersenyum didepanku, meskipun kami dalam kondisi eparah apapun.

Bahkan ia selalu memgutamakan aku ditengah laparnya, aku teringat betul bagaiamana ia rela berpuasa dan memaksaku  makan. Akhirnya  aku lari dari kontrakan kami, karena aku marah betul kenapa iya merekan dirinya lapar hanya untukku. Aku sembunyi dirumah tetangga, aku tak mau pulang selama sebungkus, satu-satunya bungkusan nasi yang kami punya hari itu mau ia santap tanpa memperdulikan aku.

Namun dasar perempuan calon penghuni syurga, dengan beragam cara ia membujukku untuk pulang dan akhirnya aku mau juga menghabiskan sebungkus nasi itu.

Aku teringat pula ketika perempuan ini dimaki-maki oleh Pak.Haji pemilik ontrakan kami, karena kami belum bayar selama dua bulan. Dengan sabar ibuku berkata: “Sabar ya pak haji, IsnyaAllah saya usahakan hari ini”, namun itu tak membuat nurani sang haji yang katanya sudah 3 kali naik haji itu menjadi luluh, sang.Haji malah makin naik pitam dan mengancam mengusur kami kalau sore itu kami tak melunasi tunggakan kontrakan kami.

Akupun masih teringat benar, ketika jam satu pagi masih berada didaerah Cawang Jakarta Timur, kami baru usai mengais rizki halalNYA dengan menjajakan jamu kecantikan kerumah seorang kerabat, entah karena aku ngatuk atau kelelahan, aku terjatuh dari bus sat kami dipaksa cepat-cepat turun, aku menyaksikan sendiri bagaimana kesatrianya ibuku, denga reflek ia tarik baju sang supir seraya menghardik “BERHENTI ATAU SAYA BUNUH KAMU, ANAK SAYA JATUH!!!”, entah karena panik atau kalap melihat anaknya jatuh, seumur hidupku belum pernah aku melihat ia semarah itu, seketika mamaku meloncat dari atas bus yang terus melaju itu hanyauntuk menyusulku. Sebuah keajaiban dating, mamaku hanya lecet pada tangannya dan dari jatuhnya mencium aspal, ia seketika berdiri dan berlari untuk menyusulku dan lanhsung memelukku.

Kurang lebih atu tahun berlalu, akhirnya digelar kembali rapa akbar keluarga besar, kelurga besar mamaku memaksa papaku hadir untuk bertanggung jawab melanjutkan merawat aku.

Meski aku pasti akan bisa kembali bersekolah dan dijamin kehidupannya oleh papaku yang kala itu dating mengakui kesalahannya menelantarkanku setahun lebih, namun mamaku bukan lantas bahagia. Denagn itu aku diputuskan untuk tinggal bersama papaku dan ibu serta kakak-adik tiriku. Aku dipisahkan dari induk semangku.

Baru kali itu aku melihat perempuan ini begitu menghamba hingga mencium kaki salah seorang kakaknya, ia memohon agar kami tak dipisahkan, mamaku memohon dengan sangat bahkan tak dengar. Ini persis sebuah shooting dengan adegan seorang ibu dihadapkan sebagai terdakwa dimuka meja hijau yang tanpa nurani.

Menolak tak lagi kuasa, akhirnya aku dibawa serta papaku dengan lambaian tangan dan derai tangis mamaku.

Waktu berselang, aku tak bisa menghubungi mamaku, menurut cerita, mamaku seakan bagai seorang yang patah arang, ia pergi dari rumah mewah yang disediakan kakaknya, dan lebih memilih melamar sebagai seorang Baby Sitter, tepatnya menjadi suster pribadi yang melayani orang-orang tua renta, yang sudah sakit namun anak-anaknya yang kaya raya sudah tak sempat lagi sekadar merawat mereka.

Dua tahun kami tak bertemu, hingga pada suatu sore eyangku mengabariku bahwa mamaku mennelpon dan memeberikan alamatnya dirumah majikannya dibilangan Depok.

Aku senang sekali kala itu, tanpa sepengetahuan ayah dan ibu tiriku, aku pagi itu berangkat sekolah, namun sejatinya membolos. Aku menuju terminal Kampung Melayu, satu-satunya terminal yang sudah kukenal. Disana aku bertanya Tanya kalau ke Depok itu naik apa?

Sebuah keajaiban datang, mungkin karena kasihan melihat aku sudah kelelahan dan memang dikantongku hanya ada uang sekitar lima ribu, aku duduk istirahat sejenak didekat toilet umum, taka lama ada seorang ibu dating bertanya: “Adik Mau Kemana? Dari tadi seperti kebingungan? Nyasar ya saying?”, aku jelaskan maksud dan tujuanku, entah mengapa ibu itu seketika mengais dan menarik tangaku lalu men-stop sebuah taksi dan langsung memerintahkan sang pengemudi untuk menuju Depok.

Agak takut juga aku saat itu, aku hanya takut aku jadi korban penculikan, namun bersyukur ternyata tidak, ia memintaku memberikan alamat mamaku yang sudah kitulis diselembar tisyu lusuh. Seperti telah diatur Tuhan, ternyata sang pengemudi tinggal tak jauh dari alamat itu dan ternyata pula mengenal ibuku, namun yang dia kenal mamaku bernama “Suster.Yatmi”, oh… ternyata mamaku mengganti sapaan kecil kesayangan keluarganya, mingkin kerena ia sedang begitu sakit hati dengan keluarganya yang memutuskan memisahkan kami pikirku.

Sebuah rumah dengan halaman sangat besar dan pagar sanagat tinggi kami ketuk, tak lama keluar seorang perempuan berseragam serba putih dan rambut yang telah memutih semua, kemudian kukenali itu adalah ibuku, orang yang melahirkanku, belum sempat sang ibu penolong mengutarakan prolog, aku dan mamaku tiba-tiba saja sudah berangkulan erat bahkan sampai jatuh karena mungkin aku terlalu berat menyandarkan badanku yang gemuk ini.

Singkat cerita, mamaku kemudian berembuk baik-baik dengan papaku dan meminta aku untuk ikut dengannya, kamipun kemudian kembali mengontrak sebuah rumah petak didekat rumah pakdeku dan kemudian mamaku berpindah kerja menjadi perawat anfa (Aplusan) disebuah rumah sakit dibilangan Jatinegara Jakarta Timur.

Singkat cerita sebagaimana yang telah aku kisahkan dalam biografi singkatku terdahulu, kamipun kembali hidup bersama dan terjadi komunikasi yang baik dengan papaku hingga ia kembali nefakahi kami meski berbeda tempat tinggal.

 

 

Tanggapan Anda: