Donny Suryono PSHDonny Suryono Permadi Sisharmiarto Hartadi (Donny Suryono PSH dan/atau "DSPSH"- Sapaan Akrabnya Didunia Maya) ialah Seorang pegiat kemanusiaan dan Social Movement Campaigner sekaligus seorang praktisi media serta jurnalis, yang telah lebih dari 02 Dasawarsa ini malang melintang sebagai staf ahli teknologi informasi serta social movement campaigner diberagam lembaga sosial masyarakat, gerakan masyarakat sipil, komunitas-komunitas di Indonesia serta membangun media-media publik berbasis MEDIA MEMPERKUAT RAKYAT .

Asal-Muasal DSPSH ialah seorang pekerja seni dan praktisi Teknologi Informasi yang tepat pada 10 Juli 2017 genap berusia 22 WARSA BERKARYA.

Almarhum RM."Kentus" Hartadi Sutjahyo Hadipamenang bersama Almarhumah Ray.Sisdjiatmi Soedjiarto WidhaningratDSPSH dilahirkan pada 10 Juli 1982 silam, putera semata wayang dari pasangan bahagia Almarhum RM."Kentus" Hartadi Sutjahyo Hadipamenang bersama Almarhumah Ray.Sisdjiatmi Soedjiarto Widhaningrat.

 

Sosok periang yang gemar memposisikan dirinya sebagai pengabdi yang begitu ringan tangan terhadap siapapun yang membutuhkannya ini, ialah sosok pengabdi kemanusiaan yang selalu digemari oleh banyak orang yang mengenalnya serta selalu mendapat tempat tersendiri dihati setiap sahabatnya yang mengenalnya begitu dekat.

Sosok pekerja keras dan selalu menunjukan prestasi sekaligus loyalitas yang begitu baik disetiap tempat dimana ia mengabdi ini, mengawali karir profesionalnya sebagai seorang pekerja seni dengan mencoba peruntungannya sebagai seorang aktor cilik.

DSPSH Dan Karirnya Sebagai Aktor Cilik


Untuk pertama kalinya DSPSH terjun kedalam dunia profesional kerja, DSPSH dipercaya untuk berkarya sebagai seorang pelakon seni.

Karya akting perdana DSPSH sebagai pekerja seni ialah Program televisi bertajuk: "PAKET PELAJARAN BIOLOGI UNTUK SLTP" (1995) yang diproduksi oleh PUSTEKOM. DEPDIKBUD (kini DEPDIKNAS) dan pertama kali disiarkan oleh Televisi Pendidikan Indonesia (kini MNCTV) pada 10 Juli 1995, bertepatan dengan ulang tahun DSPSH yang ke-13 kala itu, serta berulang kali mengalami Re-Run (Tayang Ulang) hingga tahun 2000 silam.

Kemunculannya sebagai aktor cilik, berlanjut dengan beberapa program televisi lainnya, diantaranya: Sinema televisi "BERPISAH SEPAGI INI" (Bersama Astri Ivo & Cok Simbara - INDOSIAR 1996), Sinema Televisi "DALAM PENANTIAN YANG SUNYI" (Bersama Mutiara Sani - TVRI 1997) serta beberapa iklan cetak dan media eletronik.

Terjun sebagai seorang pekerja seni depan layar, menjadikan DSPSH tak merasa nyaman, tahun 1996 DSPSH mengawali karya seni perdananya dengan sebuah karya drama musikal panggung bertajuk "Galih Dan Ratna" sebuah adaptasi dari Film layar lebar berjudul sama, karya besar Eddy D.Iskandar, dan kemudian berlanjut dengan beberapa pagelaran seni yang digelarnya untuk tingkat sekolah, seiring dengan terpilihnya DSPSH sebagai Ketua Organisasi Intra Sekolah (OSIS) untuk beberapa periode disekolahnya sejak, taraf Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP).

Lahir & Wafatnya CINTA INDONESIA PRODUCTIONS (CIP)


10 November 1999, DSPSH dengan dukungan finansial seadanya dari kedua orangtuanya, nekad mendirikan sebuah Production House bernama: CINTA INDONESIA PRODUCTIONS (CIP) yang dikenal sebagai: Productions House paling idealis, pertama diIndonesia yang selalu menginisiatifkan program-program bernuansa ke-Indonesia-an ditengah kondisi awal reformasi Indonesia dan selalu bertujuan untuk Charity!

Uniknya lagi, CIP mungkin adalah korporasi profesional pertama di Indonesia atau bahkan di seluruh dunia kala itu, yang dikomandani oleh seorang anak kecil yang berpikiran dewasa serta "Tak Wajar" untuk seusianya karena mampu memimpin sebuah korporasi hiburan secara serius.

Sosok "Dewasa Sebelum Waktunya" didalam diri DSPSH, dan sikapnya yang selalu giat belajar dari apapun yang diamati disekelilingnya, sempat membuahkan prestasi membanggakan tersendiri, DSPSH sempat memukaukan mata dan memperoleh Standing Applouse dihadapan lebih dari Sepuluh Account Director dan Account Executive (AE) dari perusahaan periklanan PT.Dwi Sapta Pratama yang menyaksikan benar seorang anak yang saat itu baru berusia 18 (Delapan Belas) tahun itu mampu mempresentasikan secara apik beragam program Entertainment yang pula ia ciptakan sendiri.

DSPSH tidak pernah malu untuk bertanya soal apapun yang ingin ia ketahui, ia tak pernah berhenti untuk mencari tahu mengapa tokoh-tokoh publik yang dikaguminya mampu menjadi sukses.

DSPSH cilik tak pernah ragu untuk "Mencegat Dijalan" para pekerja seni kenamaan yang ia kagumi, bukan untuk berkenalan atau minta tandatangan dan berfoto bersama, melainkan mengajak mereka untuk berdiskusi dan berbagi ilmu atas prestasi yang mereka raih.

Aktris senior Teater Koma - Rita Matu Mona adalah guru paling berjasa bagi DSPSH dalam hal kemampuannya menciptakan beragam skenario drama musikal panggung yang ia impikan mampu berkelas sekelas pertunjukan-pertunjukan Broadway.

Rita tak bosan-bosannya terus memberinya semangat untuk mampu bangkit menjadi layaknya sutradara teater senior - N.Riantiarno yang juga merupakan idola DSPSH dalam hal teatrikal.

DSPSH mengkoleksi dan mempelajari lebih dari 20 (Dua Puluh) naskah panggung karya N.Riantiarno yang lembar demi lembar ia pelajari secara saksama.

Ambisi yang luar biasa mengelola CIP, menjadikan DSPSH melupakan kelanjutan pendidikan formalnya yang saat itu ada pada taraf kelas 02 Sekolah Menengah Umum (SMU) dan tidak ia lanjutkan hingga saat ini.

Meski akhirnya hanya mengkantongi ijazah pada taraf SLTP, DSPSH membuktikan bahwa pendidikan formal bukanlah segalanya untuk dapat berjuang memperoleh pengakuan atas keprofesionalismean tertentu, ia selalu menyemangati sesamanya yang tak berkesempatan mengenyam pendidikan formal yang tinggi, agar tak perlu berkecil hati dan tak ragu berkompetisi dengan yang berpendidikan formal tinggi:

"...Tak punya ijazah pendidikan tinggi kenapa musti malu? Kalau anda merasa mampu dan percaya bahwa HIDUP ADALAH PROSES BELAJAR, GO AHEAD...!!! selalulah bersikap rendah hati, tak malu untuk mengakui setiap kesalahan dan mau selalu belajar dari siapapun serta apapun yang anda jumpai, setiap pengalaman dan orang yang kita jumpai itu adalah pula pendidikan, yang bahkan tak ternilai harganya dibanding selembar kertas ijazah dari lembaga pendidikan formal namun kita buta akan praktek dilapangan dan tak mampu terjun kemasyarakat tanpa textbook.. MAU dan TAK MALU UNTUK TERUS BERUSAHA, Itu Kuncinya..."

demikian ujarnya kepada mereka yang selalu patah semangat karena merasa tingkat pendidikan formalnya tak tinggi.

24 Juni 2002, CIP dengan sangat terpaksa harus dinyatakan tidak dapat lagi berdiri seiring dengan kejatuhan ekonomi keluarga DSPSH, akibat dari kecelakaan besar yang menimpa ayahanda DSPSH dan menghabiskan segala daya yang tersisa untuk mendukung pengobatan sang ayahanda tercinta.

Sejak saat itu, DSPSH berperan sebagai tulang punggung utama keluarga dan dalam sepanjang perjuangan hidupnya, ia tak pernah malu melakukan apapun untuk bertahan hidup dan menghidupi kedua orangtuanya.

Selama itu halal dan tak merugikan orang lain, ia nyatakan itu sebagai Jihad Fi Sabillah (Berperang di jalan Tuhan).

Anak Manja Yang Dipaksa Menjadi Tulang Punggung Keluarga


Masih diusianya yang begitu muda, DSPSH kala itu dipaksa oleh keadaan untuk keluar rumah, melanjutkan hidup dan menghidupi kedua orangtuanya, ia harus mampu membanting tulang menghidupi kedua orang tuanya, mulai dari berperan sebagai sales pakaian dalam perempuan dan daster keliling kota, dari rumah mewah berpindah tinggal dirumah kontrakan pinggir sungai yang banjir kala hujan dan airnya berbau busuk, hingga menjalani peran kehidupan menjadi seorang pencuci piring direstauran siap saji.

Meski keluarga besar DSPSH adalah berasal dari latar belakang keluarga ningrat dari Kasunanan Surakarta dan Trah Mangkunegaran Surakarta yang terbilang bertaraf ekonomi mampu, namun DSPSH pantang untuk mencari belas kasihan dari kerabatnya tanpa harus bekerja dahulu, DSPSH yang semula merupakan anak manja, sejak kejatuhan ekonomi keluarganya, menjadi DSPSH yang seutuhnya tumbuh sebagai seorang pekerja keras, buah dari pendidikan dari kedua orangtuanya yang selalu menanamkan jiwa pantang memohon belas kasihan dari siapapun.

Menjadi Penyiar Radio Kemasyarakatan & Pekerja Kemanusiaan Lintas Gerakan


DSPSH mengawali belajar dan menapaki dunia profesi sebagai jurnalis dengan menjadi seorang penyiar radio.

Mulai akrab dengan kemiskinan, ia bergabung sebagai relawan diberagam kegiatan kemanusiaan Lintas Keberbedaan Suku, Agama dan Alur Fikir, hingga akhirnya ia dipercayakan untuk menjadi relawan penyiar radio bernama AM 1080 STEREO RADIO SUARA KEMANUSIAAN (Ex-Radio Safari), proyek nirlaba Alm.Nor Pud Binarto, MA bersama TIM RELAWAN KEMANUSIAAN (TRK) pimpinan Romo.Sandyawan.

Selama 03 bulan lebih DSPSH hadir dengan siaran diskusi radio tengah malam hingga subuh hari bersama Pekerja Kemanusiaan Senior - Isnu Handoyo, berinteraksi dengan ribuan pendengar setia dari kisaran JABODETABEK (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang & Bekasi) yang nyukai gaya khasnya memandu siaran, setiap dinihari tak pernah sepi radio ini berinteraksi melalui telepon dengan para pendengar setianya yang mayoritas berasal dari kalangan akar rumput, membicarakan beragam topik seputar kemanusiaan dan ketidak becusan penyelenggara negara dalam melayani warga negaranya.

Dari Alm.Nor Pud Binarto MA -lah DSPSH belajar bagaimana melayani publik yang kaya ragam sifat dan keinginan, dari sana ia pula belajar bagaimana menjadi jurnalis yang kritis serta mampu menjadi perwakilan publik dalam mengawasi penyelenggaraan negara yang sesuai dengan kepentingan rakyat.

Jurnalisme kemanusiaan, investigatif, Independen serta kritis, itulah ilmu yang diperoleh DSPSH dari Alm.Nor Pud.

Selepas "Sabotase" yang menimpa dan meruntuhkan AM 1080 STEREO RADIO SUARA KEMANUSIAAN, DSPSH kembali mengabdikan diri diberagam kerja kemanusiaan.

Masih dibawah arahan Nor Pud sebagai guru humanisme dan jurnalistiknya, DSPSH turut membangun FM 107,8 Radio 911 Suara Metro yang bermarkas di Polda Metro Jaya, dan membangun kekuatan Civil Society publik pendengar menjadi sebuah kekuatan Citizen journalistic sekaligus kerelawanan yang melintas batas perbedaan Suku-Agama-Ras bahkan pandangan politik.

Dengan ilmu dari Nor Pud, DSPSH mengambil peran diluar managemen untuk "Memancing Peran Aktif Publik", mengembangkan live reporting base on citizen journalistic, memancing publik pendengar untuk menjadi reporter beragam peristiwa penting dan gawat darurat disekitarnya, sekaligus menjadi mitra Kepolisian menjaga keamanan disekitar tempat tinggalnya masing-masing, namun tetap kritis terhadap beragam kebijakan pemerintah kota yang tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat.

Menjadi Praktisi Teknologi Informasi


Ditengah-tengah waktu senggangnya menjadi relawan diberagam gerakan kemanusiaan dan bila tersedia dana yang cukup, dengan berbekal uang seadanya untuk menyewa jasa WARNET (Warung Internet), DSPSH mulai mempelajari dunia Teknologi Informasi (TI), dan dari otodidak-lah sekali lagi ia menjadi seorang profesionalis yang membuktikan tingkat pendidikan formal bukan segalanya.

DSPSH kemudian dikenal luas sebagai seorang Web Developer dan tenaga ahli TI yang tumbuh dari otodidak sekaligus kerap membantu Knowledge maupun memperbaiki perangkat-perangkat TI siapapun yang membutuhkannya, sekalipun tanpa diberi imbalan apapun.

Dari sana DSPSH makin giat belajar soal TI paling mutakhir dan mulai membangun jaringan kerja yang begitu luas.

Keaktifan DSPSH diberagam media sosial yang kala itu masih sangat sedikit, memancing Mark Zuckerberg - Pendiri Facebook mengundang langsung DSPSH untuk membuat akun Facebook perdananya, dengan mengirimkan tautan registrasi Facebook, kala itu melalui jejaring sosial Friendster dan Yahoo Messenger milik DSPSH.

MENJADIKAN TEKNOLOGI INFORMASI BUKAN LAGI SEBAGAI HAL MEWAH DAN "MEMBUMI", adalah cita-cita besar DSPSH dalam semangatnya untuk terus belajar agar mampu melakukan Transfer Knowledge kepada siapapun yang ingin belajar darinya.

Kian akrab dengan beragam hal gerakan kemanusiaan dan makin mahirnya DSPSH dalam dunia TI, DSPSH kemudian mulai mengubah arah garakannya dengan cara baru, menjadikan TI sebagai alat penyebarluasan berita dan pengkampanyean gerakan-gerakan kemanusiaan, Hak Asasi Manusia serta Demokrasi keseluruh penjuru Nusantara bahkan penjuru dunia.

DSPSH mulai tumbuh dewasa dan tergila-gila dengan segala hal yang bersifat MELAYANI SESAMA, ia lantang bicara seputar Pluralisme, Hak Asasi Manusia (HAM), Perlawanan terhadap Korupsi dan mendorong penegakan hukum di Indonesia, termasuk menyebarluaskan beragam kabar kemanusiaan dan/atau permintaan bantuan kemanusiaan bagi sesama yang memerlukan uluran tangan dari sesamanya yang lebih mampu, melalui beragam media yang bersifat Cyber.

Dari sana ia kemudian dikenal sebagai pengkabar kemanusiaan melalui media internet.

Meski penuh keterbatasan finansial dan fasilitas untuk dapat selalu Online, DSPSH tak ragu untuk memangkas pengeluaran makannya (Berpuasa) hanya untuk menyewa WARNET.

Baginya adalah sebuah keharusan membuktikan kepada masyarakat, bahwa keterbatasan dan kemiskinan bukanlah hal untuk diratapi dengan mengagungkan kata: "PASRAH".

Bagi DSPSH, kemiskinan dan serba keterbatasan itu harus dilawan dengan kreatifitas dan kerja keras, pantang menyerah berjuang untuk sesama, dan merupakan keharusanlah terus menagih TANGGUNG JAWAB NEGARA atas hak sipil, politik dan ekonomi warga negaranya yang belum terpenuhi, karena konstitusi memutlakkan bahwa KESEJAHTERAAN ADALAH HAK SETIAP WARGA NEGARA DAN MERUPAKAN HAK ASASI TANPA PENGECUALIAN!

07 (Tujuh) bulan berselang, sang ayah bangkit kembali menjadi penopang ekonomi keluarga, DSPSH tak meninggalkan komitmenya untuk terus berada pada setiap gerakan kemanusiaan dan mengkontribusikan apapun yang ia miliki.

Waktu 1 (Satu) tahun kembali mengalami kelimpahan rizki berkat pulihnya sang ayah tercinta, akhirnya berujung kembali kepada masa keprihatinan dan kerja keras, Medio tahun 2007, ayahanda DSPSH kembali jatuh sakit untuk kemudian akhirnya dinyatakan lumpuh permanen akibat strocke.

DSPSH kemudian harus kembali turun kejalan, mengais rizki untuk bertahan hidup dan tetap meluangkan waktunya mengabdi sebagai aktifis kemanusiaan untuk beragam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Pengakuan Profesionalisme Dari GUSDUR


Pasca keruntuhan FM 107,8 Radio 911 Suara Metro, Nor Pud kembali mengelola JAKARTA NEWS FM 97,05 yang sempat ia tinggalkan akibat dari perseteruan antara Nor Pud dengan Ratna Sarumpaet serta Rizal Ramli sebagai pemodal stasiun radio tersebut.

Medio Mei 2005, JAKARTA NEWS FM 97,05 (JAKNEWSFM) sebagai radio berita pertama yang menyiarkan program "KONG KOW BERSAMA GUSDUR", mengalami "Pembajakan Frekwensi" akibat dari sengketa kepemilikan kanal dan mengakibatkan radio dengan ratusan ribu pendengar ini berhenti mengudara serta berseteru dengan Kelompok Gramedia sebagai pemilik dari Radio Otomotion FM yang mengudara mempergunakan frekwensi FM 97,05 yang dahulu dipergunakan oleh JAKNEWSFM.

15 Mei 2005, profesionalisme otodidak DSPSH kembali memperoleh pengakuan, KH.Abdurrahman Wahid (Gusdur - Mantan Presiden Republik Indonesia) yang kala itu bersama Dewan Pekerja Jakarta News FM serta Komunitas Pendengar Jakarta News FM tengah mengawal kasus sengketa frekwensi JAKNEWSFM, menunjuk DSPSH untuk mendirikan sebuah situs sarana gerakan dan komunikasi ratusan ribu pendengar JAKNEWSFM yang merasa kehilangan medianya, DSPSH membangun Website sebagai media menyampaikan progress upaya-upaya perjuangan Dewan Pekerja JAKNEWSFM yang terus memperjuangan tindaklanjut hukum atas sengketa frekwensi ini.

Dari sana, nama DSPSH sebagai Seorang pegiat kemanusiaan, Social Movement Campaigner dan staf ahli teknologi informasi kian diperhitungkan beragam kalangan.

Ancaman pembunuhan melalui surat elektronik-pun sempat dialami oleh DSPSH karena dianggap mendukung dan memberikan akses luas bagi media yang "DIBREDEL" ini agar dapat kembali berkomunikasi dengan dunia luar.

Januari 2008, DSPSH ditunjuk oleh Tjandra Tedja sebagai web developer www.kamasada.com yang merupakan media perjuangan untuk: Class Action Tolak Kenaikan Tarif Tol Jakarta Out To Ring Road (JOR).

Keruntuhan JAKNEWSFM, mengalihkan dedikasi DSPSH kepada Kantor Berita Radio 68H (KBR68H) - FM 89,2 RADIO UTANKAYU, tempat baru para mantan karyawan dan pendengar setia JAKNEWSFM, sekaligus rumah baru dimana program "KONG KOW BERSAMA GUSDUR" kembali mengudara keseluruh Nusantara.

Jiwa seni DSPSH dan sikap kritisnya terhadap pengelolaan negara yang kian carut-marut ini menjadikan DSPSH sempat dipercaya untuk menjadi Penyiar Tamu, berperan sebagai tokoh Punakawan - Petruk dalam program Radio Satire Talk Show bertajuk: "Dalang Asal Gobleg" yang begitu fenomenal dan merupakan program unggulan Kantor Berita Radio 68H (KBR68H) - FM 89,2 RADIO UTANKAYU (Kini Green Radio), program ini disiarkan kelebih dari 600 (Enam Ratus) stasiun Radio Jaringan diseluruh Nusantara pada Medio 2007 silam.

DSPSH aktif turut membangun komunitas pendengar radio tersebut sehingga memiliki sebuah gerakan kemanusiaan yang mampu diperhitungkan.

MERAYAKAN KEBERAGAMAN!!! Itulah Adalah MENEGAKKAN ISLAM RAHMATAN LIL'ALAMIN DAN MUTLAK!!!


Pada tahun 2008, DSPSH bergabung dengan LSM. Arus Pelangi sebagai seorang Social Movement Campaigner, sebuah lembaga yang memperjuangkan hak dasar warga negara yang diserabut dan diperlakukan secara tidak manusiawi hanya karena mereka "Berbeda" dalam hal orientasi seksual.

Dari sikapnya yang begitu mengedepankan plualitas sebagai fitrah manusia secara sosial, DSPSH kemudian kian diperhitungkan dalam dunia gerakan kemanusiaan, pluralisme dan Hak Asasi Manusia dan diminta untuk bergabung dengan beragam gerakan kemanusiaan lainnya.

DSPSH ditempa oleh beragam kondisi dilapangan yang begitu keras, berhadapan dengan aparat yang represif, berdebad dangan para anggota parlemen yang selalu saja mengedepankan kepentingan partainya, hingga mengirimkan beragam surat teguran kepada presiden Republik Indonesia secara terbuka atas segala ketidak adilan yang terjadi dinegeri ini, itulah yang dilakukan DSPSH untuk terus mendampingi para korban ketidakadilan.

DSPSH aktif sebagai relawan Sahabat Munir hingga pendampingan para korban penggusuran.

Bagi DSPSH, merupakan sebuah anomali yang luar biasa, ketika negara yang seharusnya melindungi dan memenuhi hak dasar warga negaranya, namun justru menjadi aktor utama yang menafikan itu.

Dari sana pula DSPSH tumbuh menjadi manusia yang kritis terhadap segala ketidakadilan dan dikenal luas dalam beragam pergerakan untuk Pluralitas Indonesia:

"Apakah layak dan beradabkah ketika manusia dianggap berbeda, dianggap kecil jumlahnya, kemudian diperlakukan tidak adil dan dinafikan dari struktur sosial, Rakyat itu pemilik negara ini, mengapa kita yang harus tunduk kepada para pembantu kita? bukankah Tuhan memerintahkan berbuat adil tanpa melakukan pengecualian? Lalu mengapa kita merasa manusia namun berlaku tidak adil kepada sesama kita???"

demikianlah celoteh-celoteh DSPSH kepada para korban yang ia dampingi, pada setiap kali bertugas terjun keakar rumput untuk menguatkan para korban ketidakadilan, sekaligus menjadi seorang Community Organizer yang nyaris tidak pernah memikirkan ladang nafkah bagi kehidupannya sendiri.

Hijrah Ke Kudus - Jawa Tengah


Kematangan DSPSH dalam memperkuat dunia pergerakan kemanusiaan dengan TI, kemudian membuat DSPSH pada medio tahun 2008 silam, diminta untuk hijrah menuju kota Kudus - Jawa Tengah.

Bersama PT. Srimukti Mandiri dan CV. Satiti Daya Mukti, DSPSH menandatangani kontrak kerja berkala dan ditunjuk sebagai Vice Field Officer, Administrator And Computer Desktop, Antivirus And Network Maintenance Operational Staff And Helpdesk Administrator untuk PT.PLN Persero Area Pelayanan Dan Jaringan Kudus - Jawa Tengah.

Sebuah pengakuan luar biasa bagi sebuah kerjakeras, karena sebuah BUMN besar memberikan kepercayaan kepada seorang tamatan SLTP untuk menjaga stabilitas TI mereka yang terbilang besar.

Melayani lebih dari 150 karyawan BUMN sebesar PT. PLN (Persero), bukan sebuah tantangan mudah bagi DSPSH saat itu.

DSPSH dihadapkan dengan kinerja dan hubungan kerja yang tidak baik antara personil yang telah resign, dengan para staff PT. PLN (Persero) saat itu.

Namun bukan DSPSH ketika terkendala lalu begitu saja menyerah.

Tidak lebih dari 3 bulan, DSPSH bersama tim yang masih tersisa, membangun kembali kepercayaan serta performa profesionalisme disana, menyembuhkan sejenis "Trauma" terhadap staf yang telah resign, menjadi kepercayaan yang tinggi dari pihak PT. PLN (Persero).

Sekali lagi DSPSH mampu membuktikan bahwa profesionalisme bukan ditentukan oleh sebuah tingkat pendidikan, DSPSH meraih sambutan hangat dari ratusan staf PT. PLN (Persero) disana, hingga akhir masa pengabdiannya.

Menggebrak Indonesia Dengan Gerakan Massive Di Facebook


Agustus 2010, DSPSH membuat gebrakan dengan menjadi inisiator sebuah gerakan masyarakat melalui Facebook.com, gerakan itu bernama: "MEMERAH PUTIHKAN FACEBOOK INDONESIA 2010" yang didukung oleh ratusan ribu masyarakat Indonesia di Facebook yang secara serentak mengganti picture profile akun Facebook mereka dengan bendera merah putih selama 30 (tiga puluh) hari penuh.

Gerakan yang dicetuskan secara "Iseng-Iseng" oleh DSPSH ini sempat diusulkan untuk didaftarkan pada Rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) namun dibatalkan atas permintaan DSPSH yang merasa tidak layak.

Gebrakan DSPSH ini memperoleh perhatian luas dan dukungan luarbiasa dari beragam media massa, sebut saja HARDROCK FM JAKARTA, Media Indonesia, Kompas, MetroTV serta beberapa media lainnya yang terus mendukung dan secara sukarela turut menyuarakan gerakan ini.

Kembali Ke Jakarta Dan Wafatnya Ibunda Tercinta


Sekitar 06 (Enam) bulan jelang berakhirnya kontrak kerja DSPSH dengan PT.PLN (Persero), ujian datang menghampiri DSPSH, ibunda tercinta DSPSH dinyatakan menderita tumor otak ganas dan tiada lagi jalan keluar untuk dapat memulihkannya.

Dengan penghasilan hanya berkisar Rp.1.200.000,-, DSPSH harus membanting tulang untuk membiayai pengobatan ibunda tercintanya yang begitu besar dan mencapai Rp.10.000.000,- untuk sekali rawat inap di rumah sakit yang mencekik leher.

Sebuah anugerah besar, ditengah perjuangannya, DSPSH memperoleh banyak simpati dan batuan dari tidak sedikit sahabat yang dikenalnya melalui jejaring sosial Facebook, MENGEMIS MELALUI KAMPANYE DIBERAGAM MEDIA ONLINE DAN MEMBUANG RASA MALU DEMI KELANGSUNGAN HIDUP IBUNDA TERCINTA! itu yang harus dihadapi oleh DSPSH pada episode ujian hidupnya kali ini.

Sungguh sebuah hal yang begitu mengejutkan bagi DSPSH, karena ternyata kesedihannya begitu memperoleh simpati dari banyak sahabatnya yang banyak diantaranya belum sekalipun berjumpa dengannya secara tatap muka, namun dengan NURANI menunjukan EMPATI KEMANUSIAAN mereka kepadanya yang bukanlah apa-apa serta siapa-siapa ini.

Nama-nama tenar seperti Alex Komang, Jaleswari Pramodhawardani, Ciciek Resti hingga KH. Abdurrahman Wahid, bersimpati terhadap perjuangan DSPSH untuk membiayai pengobatan ibundanya tercinta.

26 Januari 2010, ditengah kondisi sakit ibundanya tercinta yang kian parah, DSPSH kembali hijrah ke Jakarta atas undangan bekerja dari Future Magazine yang menempatkannya pada profesi baru sebagai Journalis/Reporter And Marketing Executive Officer.

10 hari berselang, berita dukacita datang dari kampung halamannya Solo - Jawa Tengah, ibunda DSPSH wafat.

Ibunda DSPSH adalah satu-satunya penyemangat bagi DSPSH dan merupakan penuntun sekaligus guru besar bagi DSPSH dalam perjalanan hidup maupun perjalanan karir DSPSH disepanjang hidupnya.

Sejak kepergian sang ibunda, DSPSH seolah kian mati asa, DSPSH mengalami masa-masa terberat dalam hidupnya untuk tetap dapat bersemangat melanjutkan perjuangan kemanusiaan maupun perjuangan karirnya.

Jangankan bersemangat untuk bekerja, untuk tersenyumpun DSPSH kala itu begitu sulit dan membuat seluruh sahabatnya begitu merasa kehilangan sosok DSPSH yang begitu periang.

Bergabung Bersama ANBTI


DSPSH yang "Layu" itupun akhirnya memutuskan untuk kembali mengabdikan dirinya untuk beragam gerakan kemanusiaan.

Juni 2010, DSPSH bergabung dengan ALIANSI NASIONAL BHINNEKA TUNGGAL IKA (ANBTI) dan berkat jasa baik dari ibunda angkatnya - Pdt. Emmy Sahertian.

Berkat dorongan dari Pdt. Emmy, ia kembali bersemangat untuk kembali bekerja.

Bersama ANBTI, DSPSH ditunjuk sebagai Campaigner, Graphich Designer, Information Technology Administrator And Journalist Volunteer.

Semangat hidupnya kembali bangkit dan akhirnya menunjukan kembali profesionalismenya yang bukan isapan jempol.

Bersama ANBTI, DSPSH berhasil dipercayakan mengelola beberapa program besar seperti:

Pendokumentasian (Audio Visual) Sejarah Dan Budaya Kampung Cina Benteng Tanggerang - Banten
Lomba Esai Tingkat Nasional Untuk Pelajar & Mahasiswa “KITA PEDULI!”
Penerbitan Buku “Asa Itu Masih Ada” (Lomba Esai Untuk Pelajar & Mahasiswa “KITA PEDULI!”)
Pendokumentasian “Sahur Pluralisme Bersama Ibu.Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid”
Design Produksi “Konsolidasi Nasional Bhinneka Tunggal Ika Ke-02”
serta beberapa lainnya.

Selain sosok Pdt. Emmy, sosok Daniel Awigra - Program Manager ANBTI, pula menjadi sosok pembangkit kembalinya semangat kreatifitas DSPSH yang nyaris padam akibat masa dukanya atas kepergian ibunda tercintanya.

Awigra yang mengaku menangkap potensi kreatifitas yang luarbiasa didalam diri DSPSH, tak henti-hentinya menggembleng DSPSH untuk terus memulihkan kondisi berkabungnya yang seolah mulai nampak kebablasan dan untuk membuktikan bahwa dirinya bukan seorang pekerja biasa, ia adalah pekerja kreatif!

06 (Enam) bulan lebih lamanya DSPSH bekerjasama dengan Awigra, dan selama itu pula DSPSH merasakan betapa ia mampu keluar dari segala kedukaan serta rasa malasnya yang ia sendiri tak tahu mengapa terus menggelayuti hari-harinya pasca sang ibunda wafat.

DSPSH menutup pengabdiannya bersama ANBTI pada Desember 2010, dengan sukses besar terselenggaranya rangkaian acara Konsolidasi Nasional Bhinneka Tunggal Ika Ke-02 (KONAS), dimana sebagian besar dari acara-acara seni dan kebudayaanya digarap dengan kreatifitas DSPSH, dengan kesederhanaan dan keterbatasan disana-sini, beberapa acara tersebut mampu tampil apik dan penuh dengan nuansa ke-Indonesia-an.

Salah satu program dalam Rangkaian KONAS yang di-direct oleh DSPSH dan dianggap oleh banyak kalangan begitu manis untuk dikenang ialah: Program Peringatan Sumpah Pemuda: "Peluncuran Buku ASA ITU MASIH ADA" yang digelar di Puri Agung Ballroom - Grand Sahid Jaya Hotel akarta pada 28 Oktober 2010 silam.

Acara yang sederhana namun meriah tersebut, ditutup dengan Standing Aplouse dari seluruh hadirin yang datang, bahkan Anggota DPR RI - Eva K. Sundari yang pula hadir saat itu, sempat menyatakan bahwa: "...Acara Yang Manis & Indah Untuk Dikenang..." melalui akun Facebook-nya beberapa waktu setelah ia menghadiri pagelaran yang digarap oleh DSPSH tersebut.

Wafatnya Ayahanda Tercinta & Bergabung Bersama PT.INFRATAMA YAKTI


06 Mei 2011, ayahanda tercinta DSPSH dipanggil kehadirat Tuhan YME, ditengah semangat DSPSH yang kembali bangkit untuk melanjutkan hidupnya.

13 Juni 2011, DSPSH melanjutkan karirnya dengan keluar dari segala yang berkaitan dengan dunia LSM maupun pergerakan kemasyarakatan, ia diberikan kepercayaan untuk bekerja sebagai Senior IT Officer & Deputy Office Manager pada sebuah perusahaan Konsultan Air Bersih & Lingkungan Hidup yang bernama PT Infra Tama Yakti (Infrastructure & Environmental Consultant).

Melayani Ir. Rudi Williem - Profesionalis senior dalam hal pengelolaan air bersih dan sanitasi, adalah hal yang membanggakan bagi DSPSH saat itu.

DSPSH diberikan kepercayaan oleh Rudi untuk terus mengembangkan diri dalam dunia TI serta mengenal ilmu-ilmu baru dalam hal lingkungan hidup dan sanitasi, ia digembleng cukup banyak oleh Rudi sehingga memperoleh ilmu dalam beragam bidang.

Lagi-lagi ia mampu meraih prestasi untuk diberikan kepercayaan mengabdikan kemampuan otodidaknya dan memimpin divisi teknologi informasi untuk sebuah perusahaan bertaraf besar yang tahu benar dan tanpa kongkalikong memperkerjakan seorang tamatan SLTP yang nekad ini.

Keluarnya DSPSH dari dunia melayani dan pergerakan kemanusiaan ini menimbulkan banyak tuduhan dan pro-kontra yang memposisikan DSPSH seolah telah melupakan komitmenya untuk melayani sesama, namun ia tak gentar, karena tuduhan itu baginya membuktikan bahwa posisinya dalam dunia pelayanan kemanusiaan dan pergerakan HAM telah mencapai tingkat tersendiri.

Bagi DSPSH bukankah setiap manusia berhak untuk mengembangkan masa depannya untuk mencapai tingkat kesejahteraan tertentu? bukankah perjuangan tak selalu harus turun kejalan atau sekadar beretorika dalam beragam diskusi publik yang justru hanya menghambur-hanburkan dana yang sepatutnya dapat digunakan sebagai beragam upaya mensejahterakan para korban ketidakadilan, DSPSH terus membuktikan bahwa ia tak sepenuhnya meninggalkan pengabdiannya.

Bergabung Dengan GAUNG DEMOKRASI MEDIA GROUP


31 Juli 2012, DSPSH mengakhiri pengabdiannya bagi PT.Infra Tama Yakti meski banyak yang merasakan kehilangan atas keputusan DSPSH tersebut.

DSPSH diminta untuk bergabung sebagai Editor In Chief Of Multimedia Information Technologies (MIT) untuk GAUNG DEMOKRASI MEDIA GROUP sebuah grup media demokrasi dengan idealisme tinggi dan memiliki ideologi yang begitu diimpikan oleh DSPSH.

Ia dipercaya oleh praktisi media senior - James E. Simorangkir (JES), untuk membangun brand sekaligus jaringan yang membuahkan prestasi yang cukup baik.

Bersama Gaung Demokrasi, DSPSH merasakan benar telah menemukan kembali arah perjuangannya, ia seolah "Pulang Kerumah", dimana segala yang ia ingin wujudkan dalam membangun sebuah media idealis, dapat ia tuangkan sebagai inovasi-inovasi terdepan bagi grup media idealis ini.

Kini ia kembali pada rel-nya sebagai jurnalis yang memiliki komitmen besar kepada jurnalisme kemanusiaan, investigatif, Independen serta kritis sebagaimana yang pernah ia pelajari dari Alm. Nor Pud Binarto.

Donny Suryono PSH For WALT DISNEY AMBASSADOR INDONESIA


Hingga tulisan ini dipublikasikan untuk pertama kalinya pada 06 Mei 2012, DSPSH masih aktif "Dibelakang Layar" dalam beragam gerakan masyarakat sipil dan kemanusiaan, ia mengembangkan beragam media berjejaring bagi publik dan terus menjadi staf ahli bidang TI diberagam gerakan yang membutuhkan keahliannya.

DSPSH memberikan perhatian khusus kepada isyu-isyu pluralisme, isyu-isyu seputar perempuan-keberagaman gender dan seksualitas serta isyu-isyu seputar remaja dan Anak Indonesia.

Kecintaannya kepada anak, menjadikan DSPSH kini begitu Concern terhadap isyu-isyu seputar Anak Indonesia, seiring pula dengan terpilihnya DSPSH untuk menjalani beberapa tahapan pencalonan diri sebagai WALT DISNEY AMBASSADOR INDONESIA 2013 silam.

Ditengah kesibukannya yang padat dengan profesi utamanya sebagai jurnalis, DSPSH masih terus berkarya melayani sesama dengan mendirikan Civil Society Media Network Indonesia (CSMNIndo) yang melahirkan Aliansi Jurnalis Akar Rumput Indonesia (AJAR Indonesia) dan situs berita www.mediaakarrumput.org serta situs pergerakan perempuan www.suaraperempuan.or.id

Mendirikan MEDIA MEMPERKUAT RAKYAT!


Konfik manajerial dan perbedaan idealisme bermedia yang terjadi didalam Gaung Demokrasi, menjadikan DSPSH bersama James E. Simorangkir (JES) merasa perlu untuk mengakhiri berdirinya Gaung Demokrasi pada medio tahun 2012 silam.

JES dan DSPSH adalah sosok pekerja media yang bukan begitu saja tergiring oleh politisasi serta industrialisasi media.

Bukan JES dan bukan pula DSPSH bila keterbatasan sumberdaya manusia dan finansial membuat mereka berhenti untuk menciptakan inovasi, tepat pada 13 September 2012, JES bersama DSPSH secara resmi mendirikan JES MULTIMEDIA GROUP Dan/Atau resmi disingkat dengan JESMG, meski dalam kondisi finansial yang “Begitu terbatas”.

Oktober 2012, lahirlah media baru yang original merupakan milik JESMG, yaitu yang kala itu bernama: CITRA NUSANTARA MULTIMEDIA (CITNUS) sebagai media sosial-politik dan kebangsaan, dengan dua varian produk: Koran Nasional Citra Nusantara (Cetak) dan CitraNusaNews.Com (Situs Berita Internet), yang langsung memperoleh sambutan yang sangat baik dari pasar.

SATU INDONESIA NEWS GROUP, Mengawal Ir. Joko Widodo


Strategi politik dan strategi media publik dari DSPSH yang cukup baik diketahui oleh banyak orang, menjadikan DSPSH bersama JESMG dipercaya oleh Mayjen TNI - Purn H.R.Adang Ruchiatna Puradiredja untuk mengawal proses pencalonannya kembali sebagai Anggota DPR RI pada periode 2014 lalu, DSPSH menjadi social campaigner sekaligus perancang political strategic bersama JESMG kala itu.

Februari 2013, akibat dari kondisi kesehatan JES yang memburuk, JESMG dengan berat hati undur diri sejenak untuk melakukan rekstrukturisasi manajerial serta mengolah kembali beragam inovasinya.

DSPSH tidak berhenti berkarya dalam dunia jurnalistik, medio 2014, DSPSH bersama Mochammad Thoriq mendirikan SATU INDONESIA NEWS GROUP (SInews) sebagai portal berita komprehensif yang secara aktif pula mendukung pencalonan Ir. Joko Widodo sebagai Presiden Republim Indonesia.

SInews secara independen melakukan pemberitaan tanpa pencitraan dan membangun gerakan counter strategis media, ditengah beragam fitnah serta kampanye tidak sehat yang menimpa Jokowi saat itu.

SInews menjadi media parisipator non komersial dan non politis, yang mengawal Jokowi-Jusuf Kalla sepanjang masa kampanye PEMILU Presiden 2014 dan kemudian menjadi media pertama yang mengambil peran sebagai pengkritisi pemerintahan Jokowi-JK yang tidak sesuai dengan kepentingan rakyat.

DSPSH kemudian dikenal luas sebagai relawan yang terus berkomitmen mendukung pemerintahan Jokowi-JK hingga hari ini, tanpa meminta balas jasa ataupun komitmen politik apapun.

Sebagai Staf Anggota DPRD DKI Jakarta


Februari 2015, DSPSH diberikan kepercayaan untuk mengabdikan dirinya kepada Anggota DPRD DKI Jakarta - Komisi B Fraksi PDI Perjuangan - Sereida Tambunan, SIP, sebagai staf yang bertugas melakukan asistensi tugas harian, sekaligus membangun media-media komunikasi publik bagi Sereida melaporkan beragam kerja-kerja legislatif maupun kerja-kerja kemanusiaannya kepada para konstituennya.

DSPSH memperoleh kehormatan untuk dapat belajar memahami langsung dunia poltik praktis kepartaian, kerja-kerja kemanusiaan strategis, hingga kerja-kerja legislatif seorang dewan kota dalam menjalankan amanat masyarakat pemilih.

Kembalinya JESMG


Agustus 2015, seiring dengan pulihnya kondisi kesehatan JES, DSPSH secara resmi mengakhiri pengabdiannya bagi Sereida, untuk kembali membangun JESMG.

Dengan segala daya upaya yang masih mungkin disatukan, JESMG kembali hadir dan menggebrak industri media dengan diterbitkannya kembali KORAN NASIONAL CITRA NUSANTARA yang hadir dengan format baru bernama: KORAN NASIONAL GRATIS CITRA NUSANTARA sebagai KORAN NASIONAL GRATIS PERTAMA DAN UTAMA DI INDONESIA!

Setelah sekian lamanya undur diri, KORAN NASIONAL CITRA NUSANTARA terbit kembali dengan format baru bernama: KORAN NASIONAL GRATIS CITRA NUSANTARA sebagai KORAN NASIONAL GRATIS PERTAMA DAN UTAMA DI INDONESIA!

KORAN NASIONAL CITRA NUSANTARA hadir dengan Oplah 30.000 eksemplar per_minggu dibagikan secara GRATIS.

Kembali Mengabdi Untuk Sereida Tambunan, SIP


April 2016, perbedaan prinsip manajerial dan independensi, membuat DSPSH merasa perlu mengakhiri kiprahnya untuk JESMG.

DSPSH kembali mengabdi untuk Anggota DPRD DKI Jakarta - Komisi B Fraksi PDI Perjuangan - Sereida Tambunan, SIP, sebagai staf yang bertugas melakukan asistensi tugas harian, sekaligus membangun media-media komunikasi publik bagi Sereida melaporkan beragam kerja-kerja legislatif maupun kerja-kerja kemanusiaannya kepada para konstituennya.

Mengkonsep Ulang MATA ANGIN NEWS MEDIA Untuk Papua


"Memanasnya" kondisi sosial-politik di tanah Papua, memberikan kepercayaan untuk DSPSH bersama Susanto untuk mengembangkan media massa yang telah lama didirikan oleh Susanto tersebut.

Menata sistem jurnalistik dan manajerial untuk menjadi media profesional, ialah yang dilakukan oleh DSPSH selama masa kontrak 3 bulan lamanya, ia menginisiatifkan banyak hal bagaimana memberdayakan masyarakat Papua untuk dapat memiliki media profesional yang tak terkooptasi oleh politik kepentingan di Papua dan Papua Barat.

Bertugas Sebagai Staf Data Dan Strategi Kampanye Basuki-Djarot


Kedekatan secara personalnya dengan Gubernur DKI Jakarta - Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M sejak tahun 2010 dan kinerjanya yang cukup baik tergabung dalam beragam tim pemenangan, mempercayakan DSPSH untuk bergabung sebagai staf data sekaligus strategi pada Tim Pemenangan Petahanan Basuki-Djarot bersama Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan), dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.

Membangun Gerak Cepat Indonesia


Maraknya hoax dan fitnah yang berkembang seiring dengan pencalonan Basuki-Djarot pada Pilkada DKI Jakarta 2017 silam, membuat DSPSH bersama Sumantri dan Paulus Willy Silaban merasa perlu mendirikan media yang seimbang sekaligus membangun jaringan kerja diseluruh Indonesia untuk melawan beragam hoax dan mendukung calon-calon pemimpin daerah yang berkwalitas namun selalu saja berusaha dicurangi serta dijatuhkan dengan cara-cara keji mempergunakan isyu-isyu sentimen agama dan fitnah.

8 Desember 2016, berdirilah Gerak Cepat Indonesia sebagai wadah dukungan bagi para pemimpin terbaik yang berusaha dihancurkan dengan cara-cara curang serta fitnah.

Kembali Mengawal Ir.Joko Widodo


Saat ini DSPSH bersama Gerak Cepat Indonesia masih terus mendirikan wadah dukungan bagi para pemimpin terbaik yang berusaha dihancurkan dengan cara-cara curang serta fitnah, untuk mengawal pemerintahan Presiden Joko Widodo serta mendukung beragam pempimpin daerah lainnya yang berkwalitas.

 


Ditulis Oleh: Haryadi Anwar

(Tulisan Telah Dikembangkan Sesuai Dengan Berjalannya Waktu)

Last Edited: May, 21.2017