IndonesiaDaruratKapitalismeAgama

Apa makna Ramadhan dan Idul Fitri paling mencolok?

"BERJAMAAH MENJADI KORBAN KAPITALIS!"

Lihatlah bagaimana Muslim Indonesia kian senasib dengan saudara-saudara kita umat Nasrani yang merayakan Natal di Amerika, bagaimana musim ritual agama yang sakral kini bergeser pada pusaran Makanan Yang Dimewah-Mewahkan, Baju Baru hingga rela diperas pengusaha angkutan umum untuk mudik.

Padahal Ramadhan dan Idul Fitri adalah sebuah musim perihatinan, bagaimana semua umat manusia diminta oleh Allah SWT untuk sebulan penuh berdiri SAMA RASA, SAMA LAPAR dan SAMA MISKIN, dan Ramadhan memberi makna bahwa manusia harus selalu siap pada kondisi ADA-TIADA.

Namun inilah kapitalisme, kita dipacu pada nafsu yang seharusnya sama pentingnya ditekan saat Ramadhan-Idul Fitri tiba, ialah: NAFSU!

Genderang televisi menawarkan beragam gemerlap kemewahan, seolah wajar hanya sebagai iklan, yah iklan yang tertanam dalam benar mencuci otak kita, dan akhirnya mendorong kita selalu benar bergaya konsumerisme saat berada didepan etalasye toko, dan akhirnya hari pertama masuk kerja pada usia liburan lebaran adalah harinya AJUKAN KASBON.

Pun baju baru, pun makanan enak, pun plesir mudik lebaran, semua adalah perwujudan NAFSU yang telah banyak terbukti pula membuat orang gelap mata untuk memuaskan birahi itu, bukan jarang kita dengar orang maling, korupsi bahkan merampok hanya untuk memenuhi kebutuhan puasa & lebaran.

Kita tak akan telanjang bila tak beli baju saat lebaran, kita tak akan kurus kering saat buka puasa dengan segelas air putih dan kurma saja (Sunnah Rasul), bahkan kita tak akan dianggap Tuhan sebagai durhaka ketika tak mudik sekadar bertemu sanak-keluarga, namun menghabiskan banyak uang percumah yang kita kumpulkan setahun penuh dengan kerja keras itu sudah budaya bagi kita.

Kita justru lupa bahwa kita setiap tahun MERAMPAS HAK ORANG MISKIN yang dititipkan kepada kita pada momen Puasa dan lebaran: BAHWA BERAMAL DIATAS RATA-RATA SEPANJANG TAHUN DILUAR RAMADHAN ADALAH ANJURAN AGAMA DAN TAK TERBATAS BAHKAN PAHALANYA BERKALI-LIPAT.

Namun kita lupa, kita terlalu lantang berteriak kapitalisme yang sumir, sementara tanpa sadar kita telah terjebak pada kapitalisme itu sendiri: KONSUMERISME DAN KELUAR DARI AJARAN AGAMA/PANCASILA TENTANG KESEDERHANAAN.

Kita sibuk menghabiskan kelebihan rizki kita kembali untuk diri kita sendiri, tak ada waktu untuk orang lain yang tak berpunya, sukup beras 2,5 liter itupun karena wajib.

Sekadar mencermati dan mengimplementasikan untuk diri saya sendiri, anda tidak sepakat silakan, iman tentu hanya Allah SWT yang berhak menilai.

Wa'Allahu Alam...

#RenunganUntukSayaDanKitaSemua


Salam;
Donny Suryono PSH